Merasakan Sekarang
Hai, apa kabar?
Beberapa waktu lalu aku sering melihat status dari teman-temanku semasa sekolah. Mereka terlihat bahagia. Ada yang baru lulus kuliah, ada yang sedang menghadiri semacam pertemuan di tempat kerja, ada yang sedang liburan, bahkan banyak. dari mereka yang sudah menikah. — Aku kira aku ini masih remaja ಥ╭╮ಥ
Tidak ada yang salah, justru aku senang karena teman-temanku terlihat bahagia. Tapi terkadang itu membuatku cemas. Aku memandang diriku tidak se-berhasil mereka, dan aku tidak punya apa-apa untuk ditunjukkan pada dunia. Walaupun dengan rasa senangku melihat mereka bahagia juga sering menaikkan semangatku. "Mereka bisa, kok. Kamu juga bisa.", itu yang sering dikatakan kepala kosong ini.
Sejak lama aku bersumpah pada diriku untuk tidak menyesali pilihan yang aku buat. Dulu aku (bisa dibilang) terlalu santai saat sekolah sampai akhirnya aku tidak lolos SNMPTN. Sesekali terbesit di kepalaku jika aku lebih serius mungkin aku sekarang sudah bergelar S1. Tapi tak apa, itu sudah lewat. Hidup masih berjalan.
Sekarang aku sudah bekerja dan pikiranku berkata "Kalau aku dulu fokus freelance, apa mungkin aku tidak akan terjebak di pekerjaan repetitif ini?". Ada banyak faktor di sana. Mungkin saja bagaimanapun pilihanku di masa itu, aku tetap sampai pada diriku seperti saat ini. Mungkin iya, atau juga tidak.
Tapi setidaknya aku belajar satu hal:
- Kebahagiaan orang lain tidak berkurang nilainya hanya karena aku sedang sedih. Dunia tidak terpaku pada diriku seperti halnya matahari tidak mengelilingi bumi. Yang bisa aku lakukan adalah menikmati prosesnya. Meskipun harus gagal dan mengulang lagi dari awal.
"One must imagine Sisyphus happy."