Pine 🌲

Selangkah Mundur

Hai, apa kabar?

Beberapa waktu lalu aku melihat postingan Tempo di Instagram soal ekspedisi manusia ke bulan beberapa dekade lalu. Disana dijelaskan soal salah seorang astronot yang hendak mengambil sampel batuan di suatu kawah bulan, namun akhirnya ia berputar balik karena suatu hal (aku lupa soal apa XD). Sangat informatif, dan sangat bagus untuk dicermati.

Tapi lain halnya di kolom komentar postingan tersebut. Kebanyakan isinya dari mereka yang merasa beragama menyangkal kalau manusia pernah mendarat di bulan dan semua itu hanya rekayasa untuk keperluan Perang Dingin.

Dari sana, aku berusaha mencermati dan mencari jawaban mengapa beberapa orang — yang kebanyakan terlihat agamis — memiliki pemikiran seperti itu.

Aku melempar pertanyaan tentang ini di akun Misskey-ku. Ada jawaban yang masuk akal. Yang pada intinya, banyak dari mereka yang tidak percaya soal pendaratan manusia di bulan mengedepankan pandangan tentang manusianya terlebih dahulu.

Sederhananya begini: Ketika seseorang melihat suatu pencapaian yang "wah" atau seakan terlalu mengada-ada, ada kecenderungan untuk mempertanyakan apakah sesuatu ini benar(?). Melihat melalui sisi kemanusiaan yang dipenuhi dengan sifat tak sempurna, terkadang dapat mengesampingkan keajaiban yang manusia bisa lakukan hanya karena manusia tersebut tidaklah sebaik yang mereka percaya. Itulah mengapa beberapa (banyak) manusia beragama lebih percaya soal Nabi Musa yang mampu membelah lautan dengan tongkatnya dari pada manusia plesiran ke bulan dengan roketnya. Dan itu sah-sah saja, tidak bisa disalahkan.

Tapi menurutku yang tak seberapa ini, dengan menyangkal keajaiban manusia, — masa kini maupun masa lampau — kita justru mengabaikan betapa hebatnya kuasa tuhan. Betapa sabda tuhan tidak ada tandingannya, yang mana segala sesuatu di semesta ini terjadi atas sabdaNya.

Betapa mudahnya tuhan untuk memberikan keajaibannya kepada segala ciptaannya.

Pun jika kamu tak percaya dengan adanya tuhan dan berpikiran bahwa segala sesuatu pasti terjadi secara logis, maka setidaknya kamu bisa mengagumi manusia itu sendiri.

Melalui ide dan imajinasi, manusia mampu menciptakan legenda tentang seorang Nabi maupun mesin roket yang mampu membawamu terbang menembus langit. Satu dari banyaknya pencapaian makhluk hidup melalui milyaran tahun proses evolusi.

Mungkin saja, tidak ada cara yang salah dalam mengagumi keajaiban.

...

Aku yapping lagi. Maunya sih nulis santai aja, tapi selalu berakhir agak mikir heheh...